Sabtu, 26 Januari 2013

Lingkungan Yang Kondusif Terhadap Pendidikan Islam

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Lingkungan yang nyaman dan mendukung terselenggaranya suatu pendidikan amat dibutuhkan dan turut berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkan. Demikian pula dalam sistem pendidikan Islam, lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sesuai dengan karakteristik pendidikan Islam itu sendiri.
Dalam literatur pendidikan, lingkungan biasanya disamakan dengan institusi atau lembaga pendidikan. Meskipun kajian ini tidak dijelaskan dalam al-Qur’an secara eksplisit, akan tetapi terdapat beberapa isyarat yang menunjukkan adanya lingkungan pendidikan tersebut. Oleh karenanya, dalam kajian pendidikan Islam pun, lingkungan pendidikan mendapat perhatian.
Untuk mengetahui lebih jelas tentang apa dan bagaimana hakikat lingkungan pendidikan Islam, maka dalam makalah ini akan dibahas materi yang berjudul “Lingkungan Yang Kondusif Terhadap Pendidikan Islam”

BAB II
PEMBAHASAN
LINGKUNGAN YANG KONDUSIF TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM


1.      Pengertian Lingkungan
Yang dimaksud dengan lingkunagn ialah sesuatu yang berada diluar diri anak dan mempengaruhi perkembangannya.[1]
Menurut Sartain (seorang ahli psikologi Amerika), bahwa lingkungan adalah meliputi semua kondisi dalam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku manusia, pertumbuhan, perkembangan, kecuali gen-gen. Sedangkan pendapat lain, bahwa di dalam lingkungan tidak hanya terdapat sejumlah factor pada suatu saat, melainkan terdapat pula factor-faktor yang lain yang banyak jumlahnya, yang secara potensial dapat mempengaruhi perkembangan dan tingkah laku.[2] Tetapi secara actual hanya factor-faktor yang ada disekeliling anak tersebut yang secara langsung mempengaruhi pertumbuhan dan tingkah laku anak.
Alam sekitar merupakan salah satu factor dari faktor-faktor pendidikan yang ada. Dengan demikian alam sekitar merupakan factor penting pula bagi pelaksanaan pendidikan. Namun demmikian factor alam sekitar jelas berbeda apabila dibandingkan dengan faktor pendidikan. Kedua faktor pendidikan ini diakui persamaannya yaitu keduanya mempunyai pengaruh kepada pertumbuhan, perkembangan dan tingkah laku anak. Disamping itu diakui pula ada perbedaannya. Pengaruh alam sekittar merupakan pengaruh belaka, tidak tersimpul unsure tanggung jawab didalamnya.
Anak didik akan untung apabila kebetulan mendapat pengaruh yang baik, sebaliknya anak didik akan rugi apabila kebetulan mendapat pengaruh yang kurang baik.[3]
Namun demikian, dapat dipahami bahwa lingkungan tarbiyah islamiyah itu adalah suatu lingkungan yang di dalamnya terdapat ciri-ciri keislaman yang memungkinkan terselenggarakan pendidikan islam dengan  baik.[4]
Untuk itu bagi seorang pendidik diharuskan untuk selalu memperhatikan aspek lingkungan dalam mendidik anak didiknya, agar nantinya anak didik tidak berada dalam lingkungan yang kurang baik yang dapat mempengaruhi kepribadianya. Bahkan para ahli sosial berpendapat bahwa perbaikan lingkungan menjadi syarat mutlak untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.[5]

2.      Macam Macam Lingkungan Dalam Pendidikan Islam
Menurut drs. Abdurrahman saleh ada tiga macam pengaruh lingkungan pendidikan terhadap keberagamaan anak, yaitu:
a.       Lingkungan yang acuh tak acuh terhadap agama
Lingkungan semacam ini ada kalanya berkeberatan terhadap pendidikan agama, dan adakalanya pula agak sedikit tahu tentang hal itu
b.      Lingkungan yang berpegang kepada tradisi agama tetapi tanpa keinsafan batin: biasanya lingkungan demikian mengahasilkan anak-anak beragama yang secara tradisional tanpa kritik atau beragama secara keturunan
c.       Lingkungan yang memiliki tradisi agama dengan sadar dan hidup dalam kehidupan agama. Lingkungan ini memberikan motivasi (dorongan) yang kuat kepada anak  untuk memeluk dan mengikuti pendidikan agama yang ada. Apabila lingkungan ini ditunjang oleh pimpinan yang baik dan kesempatan yang memadai, maka kemungkinan besar hasilnya pun paling baik.

Dari uraian tersebut diatas dapat diambil kesimpulan bahwa lingkungan pendidikan itu dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a.       Pengaruh lingkungan positif
b.      Pengaruh lingkunag negative
c.       Pengaruh netral
Pengaruh positif yaitu lingkunag yang memberikan dorongan atau motivasi dan ransangan kepada anak untuk menerima , memahami, meyakini serta mengamalkan ajaran islam. Sedangkan pengaruh lingkungan negatif yaitu lingkungan yang menghalangi atau kurang menunjang kepada anak untuk menerima, memahami, meyakini dan mengamalkan ajaran islam.
Mengenai lingkungan netral adalah lingkunag yang tidak memberikan dorongan untuk meyakini atau mengamalkan agama, demikian pula tidak melarang atau menghalangi anak-anak untuk meyakini dan mengamalkan ajaran islam. Lingkunagn ini apatis, masa bodoh terhadap keberagamaan anak-anak. Lingkunag itu Nampak ada dalam kehidupan bermasyarakat.[6]
Kihajar Dewantara mengartikan lingkungan dengan makna yang lebih simple dan spesifik. Ia mangatakan  bahwa apa yang dimaksud dengan lingkungan pendidikan berada dalam 3 pusat lembaga pendidikan yaitu:
1.      Lingkungan keluarga
  1. Lingkungan Sekolah
  2. Lingkungan Organisasi pemuda atau kemasyarakatan.[7]
Selanjutnya dibawah ini akan dibahas beberapa lembaga yang tumbuh didalam masyarakat serta mempunyai pengaruh luas bagi kehidupan agama anak.
a.      Keluarga
Diantara satuan pendidikan luar sekolah adalah keluarga yang berlangsung dirumah. Untuk ini perlu dibahas mengenai apa yang diamksud dengan keluarga dan rumah itu, secara literal keluarga adalah merupakan unit social terkecil yang terdiri dari orang yang berada dalam seisi rumah yang sekurang-kurangnya yang terdiri dari suami isteri. Sedangkan dalam arti normative, keluarga adalah kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh suatu ikatan perkawinan, lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai suatu gabungan yang khas dan bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk kebahagiaan, kesejahteraan, dan ketentraman semua anggota yang ada di dalam keluarga tersebut.[8]
Allah berfirman:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR
Artinya:  ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”  (At-Tahrim: 6)

Kalau orangtua tidak pandai mendidik dan memelihara anak, akhirnya anak tersebut terjerumus kelembah kenistaan, maka akibatnya baik kehidupan didunia apalagi diakhirat.
Keluarga yang ideal ialah keluarga yang mau memberikan dorongan kuat kepada anaknya untuk mendapatkan pendidikan agama. Jika mereka mampu dan berkesempatan, maka mereka melakukan sendiri pendidikan agama ini. Tetapi apabila tidak mampu atau tidak berkesempatan, maka mereka datangkan guru agama untuk memberikan pelajaran privat kepada anak-anak mereka. Disamping itu mereka masih memberikan perhatian dan fasilitas-fasilitas lainyang diperlukan. Mereka merasa kecewa dan merasa berdosa kepada Tuhan apabila tidak memberikan perhatian pendidikan agama ini. Keluarga demikianlah yang melahirkan anak-anak taat menjalankan agama.
Selain dari ayah bundanya, keluarga-keluarga yang lain pun telah memegang peranan. Hubungan denga keluarga selain ibu bapak, membawa akibat-akibat baru terhadap anak-anak itu. Kasih sayang seperti yang ditrimanya dari ibu bapak, tidak akan diperolehnya dari keluarga-keluarga lain itu. Kasih sayang mereka itu, biasanya lepas dari soal-soal memanjakan si terdidik, sehingga tidak selalu keinginan si anak itu dipenuhi oleh mereka. Jika terjadi demikian, maka hal itu akan banyak membantu anak-anak kearah berdiri sendiri, dan mengenal lingkungannya dengan baik. Orang tua yang bijaksana akan member kesempatan secukupnuya kepada anak anaknya untuk bergaul dengan keluarga keluarganya itu, dengan tetangga tetangga yang terdekat dan sebagainya.[9]

b.      Sekolah
Sekolah adalahlembaga pendidikan yang penting sesudah keluarga, karena makin besar kebutuhan anak, maka orangtua menyerahkan tanggungjawabnya sebagian kepada lembaga sekolah ini. Sekolah berfungsi sebagai pembantu keluarga dalam mendidik anak. Sekolah memberikan pendidikan dan pengajaran kepada anak anak mengenai apa yang tidak dapat atau tidak ada kesempatan orang tua untuk memberikan pendidikan dan pengajaran didalam keluarga.
Tugas guru dan pemimpin sekolah disamping memberikan ilmu pengetahuan pengetahuan, keterampilan dan juga mendidik anak beragama. Disinilah sekolah berfungsi sebagai pembantu keluarga dalam memberikan pendidikan dan pengajaran kepada anak didik.
Pendidikan budi pekerti dan keagamaan yang diselenggarakan di sekolah sekolah haruslah merupakan kelanjutan, setidak tidaknya jangan bertentangan dengan  apa yang diberikan dalam keluarga.[10]
Disamping itu telah diakui oleh berbagai pihak tentang peran sekolah bagi pembentukan kepribadian anak sangat besar. Sekolah telah membina anak tentang kecerdasan, sikap, minat dan sebagainya dengan gaya dan caranya sendiri sehingga anak mentaatinya. Karena itu dapatlah dikatakan sekolah berpengaruh besar bagi jiwa dan keberagamaan anak. Lingkunag sekolah yang positif terhadap pendidikan islam yaitu lingkungan sekolah yang memberikan fasilitas dan motivasi untuk berlangsungnya pendidikan agama ini. Apalagi kalau sekolah ini memberikan sarana dan prasaranayang memadai untuk penyelenggaraan pendidikan agama, maka dibuatkan pula tempat wudhu, tempat ibadah, diadakan buku buku ke islaman di dalam perpustakaan sekolah dan diberikan kesempatan yang luas untuk penyelenggaraan praktek-praktek ibadah dan peringatan hari-hari besar islam dan lain-lain. lingkungan sekolah demikian inilah yang mampu membina anak rajin beribadah. Berpandangan luas dan daya nalar kreatif.[11]

c.       Masyarakat
Lembaga pendidikan masyarakat merupakan lembaga pendidikan yang ketiga sesudah keluarga dan sekolah. Pendidikan ini telah dimulai sejak anak-anak untuk beberapa jam sehari lepas dari asuhan keluarga dan berada diluar sekolah. Corak ragam pendidikan yang diterima anak didik dalam masyarakat ini banyak sekali, yaitu meliputi segala bidang naik pembentukan kebiasaan, pembentukan pengetahuan, sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan.
Pendidikan dalam pendidikan masyarakat ini boleh dikatakan pendidikan secara tidak langsung, pendidikan yang dilaksanakan dengan tidak sadar oleh masyarakat. Dan anak didik sendiri secara sadar atau tidak mendidik dirinya sendiri, mencari pengetahuan dan pengalaman sendiri, mempertebal keimanan serta keyakinan sendiri akan nilai nilai kesusilaan dan keagamaan didalam masyarakat.
Lembaga lembaga pendidikan yang ada di masyarakat ikut langsung melaksanakan pendidikan tersebut. Di dalam masyarakat terdapat beberapa lembaga atau perkumpulan atau organisasi seperti: organisasi pemuda (KNPI, karang Taruna), organisassi kesenian (sanggar tari, perkumpulan musik), pramuka, olahraga, keagamaan dan sebagainya. Lembaga-lembaga tersebut membantu pendidikan dalam usaha membentuk pendidikan seperti: membentuk sikap, kesusilaan, dan menambah ilmu pengetahuan diluar sekolah dan keluarga.[12]
Organisasi-organisasi seperti tersebut di atas jika mendasarkan diri pada agama mempunyai pengaruh positif bagi kehidupan keagamaan.
Tidak kalah pentingnya dengan Organisasi-organisasi tersebut di atas yaitu persekutuan hidup di dalam masyarakat yang memanifestasikan ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari, kesemuanya itu ikut mempengaruhi keagamaan anak.
Perkumpulan dan persekutuan hidup masyarakat yang memberikan anak untuk hidup dan mempraktikkan ajaran islam rajin beramal, cinta damai, toleransi, dan toleransi, dan suka menyambung ukhuwah islamiyah, sebaliknya lingkungan yang tidak menghargai ajaran islam maka dapat menjadikan anak apatis atau masa bodoh kepada agama islam. Apalagi masyarakat yang membenci islam, maka akhirnya anaknya akan membenci kepada islam.[13]

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa lingkungan pendidikan sangat berperan dalam penyelenggaraan pendidikan Islam, sebab lingkungan yang juga dikenal dengan institusi itu merupakan tempat terjadinya proses pendidikan. Secara umum lingkungan tersebut dapat dilihat dari tiga hal, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Keluarga yang ideal dalam perspektif Islam adalah keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Profil keluarga semacam ini sangat diperlukan pembentukannya sehingga ia mampu mendidik anak-anaknya sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Kemudian orang tua harus menyadari pentingnya sekolah dalam mendidik anaknya secara profesional sehingga orang tua harus memilih pula sekolah yang baik dan turut berpartisipasi dalam peningkatan sekolah tersebut.
Sementara sekolah atau madrasah juga berperan penting dalam proses pendidikan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang pada hakikatnya sebagai institusi yang menyandang amanah dari orang tua dan masyarakat, harus menyelenggarakan pendidikan yang profersional sesuai dengan prinsip-prinsip dan karakteristik pendidikan Islam. Sekolah harus mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan dan keahlian bagi peserta didiknya sesuai dengan kemampuan peserta didik itu sendiri.
Begitu pula masyarakat, dituntut perannya dalam menciptakan tatanan masyarakat yang nyaman dan peduli terhadap pendidikan. Masyarakat diharapkan terlibat aktif dalam peningkatan kualitas pendidikan yang ada di sekitarnya. Selanjutnya, ketiga lingkungan pendidikan tersebut harus saling bekerja sama secara harmonis sehingga terbentuklah pendidikan terpadu yang diikat dengan ajaran Islam. Dengan keterpaduan seperti itu, diharapkan amar ma’ruf nahi munkar dalam komunitas masyarakat tersebut dapat ditegakkan sehingga terwujudlah masyarakat yang diberkahi dan tatanan masyarakat yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur.




DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata, 1997, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Wacana Ilmu.
H.M. Sutiyono, 2009, Ilmu Pendidikan Islam Jilid 1, Jakarta: Rineka Cipta.
Nur uhbiyati, 2005, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia.
Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama/IAIN di Jakarta, 1984, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: CV Yulina.
Sama’un Bakry, 2005, Menggagas Konsep Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Zakiah Darajat, dkk, 2000, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: PT Bumi Aksara.


[1] Nur uhbiyati, ilmu pendidikan islam, (bandung:pustaka setia, 2005) h 209
[2] H.M. Sutiyono, Ilmu Pendidikan Islam Jilid 1, (Jakarta: Rineka Cipta 2009), hlm. 298
[3] Nur uhbiyati, Op.Cit., h 209
[4]Dr. H. Abuddin Nata, M.A. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Wacana Ilmu, 1997), h. 111.
[5] Zakiah Darajat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2000), hlm. 65
[6] Nur uhbiyati, Op.Cit., h  210-211
[7]Sama’un Bakry, Menggagas Konsep Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung, Pustaka bani quraisy, 2005)  hlm.97
[8] Abuddinnata, Op.Cit, hal. 113
[9] Nur uhbiyati, Op.Cit., h. 212-213
[10] Proyek Pembinaan Prasarana Dan Sarana Perguruan Tinggi Agama/IAIN di Jakarta, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: CV Yulina, 1984) h. 176-177
[11] Nur uhbiyati, Op.Cit., h 214
[12] Proyek Pembinaan Prasarana Dan Sarana Perguruan Tinggi Agama/IAIN di Jakarta, Filsafat Pendidikan Islam, Op.Cit., h 177-178
[13] Nur uhbiyati, Op.Cit., h 216-217

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar